Rabu, 20 Februari 2008

Miracle of Love

Dian Syarief Pratomo. Kalau cerita tentang Mbak Dian, ga mungkin tanpa ada tetesan air mata…*hiks hiks…..hmmmmmmpppph….tarik napas panjang dan…mulai!*

Aku sudah mendengar banyak cerita tentang Mbak Dian dari dulu sekali...Beliau adalah teman Ibuku, jadi kalau Ibu bercerita tentang Mbak Dian ke teman-temannya, aku sering nguping :)...Beberapa kali juga profilnya muncul di beberapa media cetak di Indonesia. Salah satunya disini.

Kalau masing-masing orang diminta menuliskan deskripsi kehidupan yang sempurna versi mereka, mungkin hampir semua orang akan menulis poin-poin seperti lahir di keluarga yang berkecukupan, wajah yang cantik atau ganteng, kuliah di sekolah tinggi yang berkualitas, memiliki karir yang cemerlang dan memiliki pasangan hidup yang juga cantik atau ganteng.

Mbak Dian memiliki itu semua.

Tapi ternyata, deskripsi kehidupan sempurna versi manusia berbeda dengan versi Allah SWT . Allah SWT ingin Mbak Dian memiliki kehidupan yang lebih sempurna lagi. Sehingga, siapa yang menyangka, di puncak karirnya, Allah menitipkan kepada Mbak Dian penyakit lupus. Penyakit yang sampai sekarang belum ditemukan obatnya. Penyakit yang biasa diberi julukan penyakit 1000 wajah, karena penyakit ini selalu ‘menyamar’ menjadi gejala penyakit lain. Hal ini menyebabkan penyakit lupus sulit untuk didiagnosa.

Allah SWT seakan-akan ingin menunjukkan kekuasaanNya kepada mahlukNya. Ibu dan saudara-saudara Mbak Dian adalah dokter. Tapi mereka ga bisa berbuat apa-apa untuk mencegah penyakit ini menggerogoti tubuh Mbak Dian. Karena kondisi tubuh yang lemah, karier harus dikorbankan. Mbak Dian malah sempat kehilangan kecantikan (fisiknya) karena efek obat-obatan membuat wajahnya bengkak sehingga ga ada yang bisa mengenalinya. Mbak Dian juga sudah mengalami belasan kali operasi ( yang terakhir aku tahu adalah pada saat bulan Ramadhan tahun lalu), dan sekarang penglihatannya hanya berfungsi 5% aja.

Tapi, bersamaan dengan diberinya cobaan yang bertubi-tubi itu, Allah SWT juga memberikan bekal yang cukup untuk menghadapinya..

…iman yang kuat
“Dengan sakit ini saya menjadi lebih dekat denganNya…”

…sikap optimis
“Badan boleh sakit tapi hati dan jiwa ga pernah sakit…”

…keluarga yang menyayangi Mbak Dian, dan..

…suami yang luar biasa
“My husband is an angel sent from heaven…”

Tiga minggu sebelum aku menikah, tanggal 25 Desember 2005, aku datang ke undangan ulang tahun pernikahan Mbak Dian dan Mas Eko Pratomo yang ke-15. Acaranya bukan acara pesta yang meriah. Diadakan di masjid Secapa, Hegarmanah, Bandung, tempat akad nikah mereka dilangsungkan lima belas tahun yang lalu, acara ini lebih merupakan acara syukuran dan renungan. Ini adalah pertama kalinya aku bertemu langsung dengan Mbak Dian, setelah sekian lama mengenalnya dari cerita-cerita yang aku dengar dan baca.

Untuk acara anniversary itu, Mas Eko sengaja menulis sebuah buku berisi perjalanan cinta mereka selama lima belas tahun sebagai hadiah pernikahan untuk istrinya dan tamu-tamu yang hadir. Dari buku itu, kita bisa mengikuti perjalanan kehidupan mereka, dari awal kisah yang seperti cerita-cerita dongeng, membeli rumah pertama, pergi haji, berbulan madu ke Eropa, sampai saat Mbak Dian ‘divonis’ mengidap penyakit lupus dan harus berkali-kali menjalani operasi.

Membandingkan cerita perjalanan bulan madu ke Eropa dengan perjalanan berobat ke Singapura pastinya sangat bertolak belakang. Tapi ada satu yang ga berubah, di setiap tulisan, baik cerita bahagia ataupun sedih, aku bisa merasakan cinta Mas Eko yang sangat besar kepada Mbak Dian, bahkan terasa bertambah besar di lembar-lembar akhir buku itu.

Hari itu, tiga minggu sebelum pernikahanku, aku sangat bersyukur mendapatkan contoh yang sempurna akan pernikahan yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Sehari sebelum acara pernikahanku, Mba Dian datang di acara pengajian untuk ikut mendoakan aku. Dengan santai dia sempat bercerita kalau dia pernah menawarkan kepada suaminya untuk mencari istri baru. Mbak Dian merasa tidak bisa menjadi istri yang ‘sempurna’ karena tidak bisa memberikan keturunan dan sakit yang dideritanya menjadikan fisiknya lemah. Tetapi, Mas Eko cuma menjawab, “Kamu adalah bekal saya di akhirat nanti…”.

Subhanallah…subhanallah…subhanallah…

Mbak Dian dan Mas Eko, both of you are angels sent from heaven…

Sakit memang seharusnya tidak menjadikan manusia mahluk yang lemah. Dari salah satu surat Al-Quran kesukaan Bapakku, Al-Insyirah, Allah SWT menjanjikan setelah kesulitan pasti ada kemudahan, dan setelah kita mampu melewati berbagai cobaan, Allah akan menaikkan derajat kita ke tingkat yang lebih tinggi. Mbak Dian dan Mas Eko adalah salah satu buktinya.

Sekarang, mereka berdua aktif mengelola yayasan Syamsi Dhuha, yayasan yang mengampanyekan kepedulian terhadap penyakit lupus dan penderita low-vision eyes. Mereka juga baru menerbitkan buku tentang perjalanan cinta mereka “Miracle of Love”. Talk show tentang buku ini akan diadakan hari Sabtu tanggal 23 Februari 2008 di Balai Kartini.

Aku sendiri belum membaca buku “Miracle of Love” ini, maklum di Bali emang selalu terlambat dibandingkan Jakarta dan Bandung (kirimin dong dari Jakarta!). Tapi aku yakin isinya akan menginspirasi kita semua. Cinta mereka adalah cinta yang sebenar-benarnya, cinta karena Allah SWT, cinta yang mampu mengalahkan penyakit apapun di dunia.

Mbak Dian dan Mas Eko, salam sayang dari Bali :).

1 komentar:

  1. hm...
    ga bisa bilang apa-apa

    salut buat mereka berdua

    *terharu

    BalasHapus