
*update :
M'pri udah nulis juga tentang sayembara ini...rajin banget
nulis ulang semua konsepnya...hihihi. Ya gapapa deh, itung-itung buat persiapan presentasi di
soup chat. Panel sayembaranya juga bisa diliat
disini.
Ceritanya beberapa bulan yang lalu aku diajak
mantan pacarku dan
Fajar untuk ikut
sayembara desain Green Architecture yang diadakan oleh BCI Asia. Akhirnya, selama beberapa bulan terakhir, kami bertiga mengorbankan hari-hari weekend untuk mengerjakan sayembara ini. Hari-hari yang melelahkan tapi juga menyenangkan. Hari-hari yang berbeda dari rutinitas biasa, hari-hari dimana kami banyak belajar tentang hal-hal baru dan mendesain dengan all-out. Setelah semuanya selesai, kami sudah merasa sebagai pemenang, karena puas dengan apa yang kami hasilkan. Apapun keputusan juri, itu ada di urutan kesekian.
Seminggu sebelum pengumuman resmi pemenang, telepon rumahku berdering jam 11 malam! M'pri dan aku udah melirik bengis ke arah telepon. Gila, siapa nih yang nelpon jam segini?
Akhirnya aku angkat juga, dan...
"Keow, kita menang!!"
ternyata Fajar, dia baru ditelepon oleh panitia sayembara.
"Hah? Juara berapa?"
"Juara pertama untuk site Malaysia!"
Senang? Pastinya...
Alhamdulillah...
Tapi yang jelas, kami udah merasa senang dari jauh-jauh hari sebelum dinyatakan sebagai "pemenang".
Oia, ada kabar yang lebih menyenangkan lagi. Sayembara ini adalah sayembara internasional khususnya se-Asia Pasific dengan tiga lokasi yang disayembarakan: Malaysia, Filipina dan Australia. Nah ternyata, seluruh pemenang dari masing-masing lokasi berasal dari indonesia loh! Yeaaa!! Selamat ya!
Waktu orang tua dan saudara-saudaraku menerima kabar menyenangkan ini, mereka semua bertanya, "Emang green architecture itu apa sih?"
iya, apa sih
green architecture itu?
Sebelum bercerita lebih banyak, aku mau berterimakasih dulu kepada panitia sayembara ini. tanpa inisiatif mereka menyelenggarakan sayembara bertema "green architecture", kami mungkin ga akan termotivasi untuk belajar tentang topik ini. Hadiah uangnya mungkin ga terlalu besar ( kecuali kalau ada yang mau beli hadiah software autodesk revit-nya ;P), tapi kami belajar banyak.
Pengumuman resmi pemenang Futurarc Prize diadakan bersamaan dengan
Futurarc Forum 2008 yang bertemakan Green Architecture. Walaupun bukan topik baru, green architecture akhir-akhir ini lebih banyak dibicarakan sejak
Al-Gore mengampanyekan isu global warming.
Ga usah didebat lagi kalau arsitek adalah salah satu profesi yang paling berperan terhadap perusakan bumi. Beberapa dekade terakhir, kita terlalu dimanjakan oleh teknologi. Penghangat/pendingin ruangan yang mungkin sudah tidak menggunakan freon, tetapi menyita energi listrik yang cukup besar, pembangunan besar-besaran yang mengurangi luasan daerah hijau, pembabatan hasil hutan untuk material bangunan, dan lainnya. Bertobatlah hai arsitek-arsitek!
Dr. Raymond J. Cole, dari British Columbia University, Canada meringkas definisi 'green architecture' ke dalam klasifikasi sebagai berikut:
Reuse:
- energy
- material
- water
- land
Reduce:- green house effect emission
- ozone depletion
- liquid effluent
- solid waste
Improve:
- indoor air quality
- thermal
- lighting
- acoustic
Gampang kan? Gampang ngetiknya, aplikasinya belum tentu...hehehe. But if there's a will there's a way kan? Poin-poin dari Dr. Cole di atas adalah prinsip-prinsip dasarnya, sementara gaya arsitekturnya bisa tergantung kepada selera masing-masing individu. Yang musti diingat adalah 'green architecture' itu bukan sekedar kosmetik. Atap rumput apakah pasti hijau? Belum tentu. Kalau pemilihan jenis vegetasinya ga sesuai dengan lingkungan setempatnya dan malah menguras banyak air untuk menyiram bagaimana?
Pak Budi Sukada, ketua IAI pusat memberikan kutipan yang bagus sekali,
"karya bukanlah hasil akhir, melainkan sarana."Kutipan ini mengingatkan kita bahwa pada saat membangun, kita harus menyadari bahwa ada 'pendahulu'-'pendahulu' di lingkungan tempat kita membangun. Apakah itu berupa bangunan lain, pepohonan, sumber mata air dan lainnya. Jadi, pembangunan harus selaras dengan kondisi yang sudah berlaku, dan setelah pembangunan selesai, bukan berarti pekerjaan kita selesai, karena kita harus terus membinanya supaya keselarasan terus terjadi.
Ah aku jadi ngerasa banyak omong banget. Padahal kalau di rumah juga masih suka pasang AC, hihihi. Pembenarannya, ini kan rumah kontrakan, dulunya ga dirancang dengan bener jadinya ventilasinya ga berfungsi dan gerah banget! Berarti nanti kalo aku ngerancang rumah sendiri konsep rancangannya adalah bablas angine ;P.
Walaupun mencerahkan, aku juga ingin mengkritik pembicara-pembicara di Futurarc Forum kemarin. Aku merasa beberapa di antara para pembicara terlalu berpikiran west oriented atau modern oriented. Dr. Cole di akhir presentasinya mengatakan: " I hope in the future, architect in Indonesia will start to build as architects in north america do." Bang Ridwan Kamil -
tanpa mengurangi rasa hormat- mengatakan, "Kita harus melakukan pendekatan secara bertahap kepada penduduk-penduduk 'daerah' agar mereka memahami konsep green architecture."
Aku ga bermaksud sok tahu atau sok pintar, tapi dari yang aku pelajari, desain arsitektur vernakular indonesia adalah contoh baik desain-desain yang menerapkan prinsip-prinsip green architecture. Justru kitalah yang harus banyak belajar dari peninggalan nenek moyang kita, dan juga dari orang-orang kampung yang tidak memperoleh pendidikan tinggi tetapi hidup seimbang dengan lingkungannya.
Aku tinggal di salah satu kampung di bali. Disini, bapak-bapak petani setiap hari menggunakan sepeda ke sawah alih-alih memakai kendaraan yang tergantung pada BBM. Mereka bertelanjang dada ( bapak-bapaknya lo ya ;P) sehingga ga memerlukan AC. Mereka malah sudah mengenal istilah 'water reuse' karena mereka mandi di sungai, lalu air bekas mandi digunakan untuk mencuci baju lalu air bekas mencuci baju digunakan untuk mencuci sepeda ( atau kebalik siklusnya ya? ;P). Jadi, ternyata mereka lebih 'green' kan daripada kita?
Pada saat mengerjakan sayembara, kami banyak belajar dari salah satu arsitek australia,
Troppo Architect. Mereka adalah arsitek yang rajin mengeksplorasi desain bangunan untuk mampu beradaptasi dengan iklim setempat, terutama iklim tropis. Menariknya, karena iklim hot-humid di Australia utara mirip dengan iklim di Indonesia, maka mereka banyak belajar dan mentransformasi arsitektur-arsitektur tradisional Indonesia, seperti di daerah Makasar. Hasil rancangan mereka kebanyakan adalah bangunan-bangunan bermaterial baja ( karena baja mudah didapat di Australia) dengan bermacam-macam bentuk atap miring futuristik. Jadi, alangkah ruginya kita karena sering memandang sebelah mata kepada arsitektur lokal sementara arsitek mancanegara justru menggali ilmu dari sana. Selama ini, kita terlalu banyak berkiblat ke arsitek-arsitek barat yang notabene kondisi iklimnya jauh berbeda, sementara banyak contoh-contoh menarik dan sudah teruji fungsionalitasnya di kampung sendiri.
Salah satu contoh bagus tentang kolaborasi antara arsitek dan penduduk lokal ada di Kenya. Para arsitek dari
ITDG ( Intermediate Technology Development Group) , hanya mengarahkan kepada kliennya, perempuan Maasai, Kenya, untuk menambahkan jendela dan parit di sekitar rumah tradisional mereka. Ya, dikarenakan perubahan gaya hidup dan kebutuhan, arsitektur tradisional pun harus mampu beradaptasi. Tapi itu bukan berarti menggantinya dengan yang sama sekali baru kan?
Dengan kekayaan preseden seperti di Indonesia, sebetulnya tidak sulit bagi Indonesia untuk mulai menerapkan prinsip-prinsip 'green architecture'. Negara tetangga kita, Australia, Vietnam, Singapura dan ( oh oh ) Malaysia sudah maju beberapa langkah di depan. Yah sebete-betenya kita sama Malaysia ternyata mereka emang selalu lebih duluan daripada kita... Kasiyaan deh kita..:)
Menurutku, keberlanjutan 'green architecture' di Indonesia agak meragukan. Pada saat Forum Futurarc kemarin, perwakilan pejabat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Pemda DKI, meninggalkan acara ga lama setelah mereka memberikan sambutan dan... ga balik-balik lagi! Padahal acaranya bagus loh, presentasi dari pembicara-pembicaranya juga mencerahkan. Andaikan aja mereka mau mendengar.
Sekarang aku ga heran kenapa Indonesia sulit untuk maju padahal banyak orang pintar yang tinggal dan berasal dari sini. Jelas kelihatan pemerintah ga berupaya membangun sinergi yang positif dengan mereka. Sampai kapan sih pejabat kita cuma mau bertugas sebagai penggunting pita dan pemberi sambutan? ....dan kita membayar pajak untuk menggaji mereka melakukan itu semua. Sebel kan?
Ps. lihat juga:
Architecture 2030
Architecture For HumanityITDG ( Intermediate Technology Development Group) official websiteInhabitatBuilding.co.ukGreenhouse.gov.au